Views: 5
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Bintuni, Joko Linggara Ingatkan HMI Pentingnya Karakter dan Ilmo
BINTUNI, inspirasipapua.id — Menjadi mahasiswa bukan sekadar mengejar gelar akademik. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, berkarakter, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Linggara, saat menghadiri pelantikan dan pembukaan Rapat Kerja (Raker) Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Bintuni, Cabang Manokwari, periode 2026–2027, di Aula KPU Kabupaten Teluk Bintuni, Kamis (5/11/2026).
Mengusung tema “Menyalakan Api Perjuangan, Meneguhkan Bintuni sebagai Garis Depan Perubahan”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi kader HMI untuk memperkuat komitmen organisasi sekaligus meneguhkan peran mahasiswa dalam pembangunan daerah.
Di hadapan para kader, Joko menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus yang baru dilantik. Ia mengingatkan bahwa jabatan dalam organisasi bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Menurutnya, HMI memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa. Organisasi ini seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas, spiritualitas, dan kepemimpinan bagi generasi muda.
Namun, menjadi kader organisasi tidak cukup hanya memahami teori atau aktif mengikuti kegiatan. Mahasiswa harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi gagasan dan tindakan yang bermanfaat.
“Organisasi ini bukan dibentuk untuk melawan negara sendiri, tetapi bagaimana kita mampu berpikir bersama pemerintah dan memberikan solusi. Kita boleh mengkritik, tetapi kritik itu harus disertai solusi, bukan hanya asal berbicara,” tegas Joko.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah. Bagi Joko, kritik tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi, tetapi harus dibangun di atas pengetahuan, argumentasi, dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.
Ia kemudian mengajak para mahasiswa melihat organisasi sebagai tempat menempa diri. Melalui berbagai aktivitas, kader belajar berbicara di depan umum, memimpin rapat, membangun komunikasi, mengambil keputusan, hingga menghadapi perbedaan pendapat.
“Organisasi ini menjadi tempat melatih jati diri dan karakter kita sebagai seorang pemimpin. Orang yang ikut organisasi biasanya lebih siap ketika diberikan tanggung jawab untuk memimpin, karena sudah ditempa melalui berbagai pengalaman,” ujarnya.
Joko juga menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keberanian berbicara. Ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan nilai agama, etika, dan sopan santun.
Seseorang yang berilmu, katanya, semestinya semakin bijaksana dalam bersikap dan berkomunikasi. Bukan justru merasa paling hebat atau merendahkan orang lain.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk terus membaca, belajar, berani bertanya, dan memperluas wawasan. Rasa malu bertanya, menurutnya, dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkembang.
Pesan lain yang disampaikan Joko adalah pentingnya regenerasi kepemimpinan. Ia berharap HMI Komisariat Bintuni mampu melahirkan kader-kader berkualitas yang kelak mengambil peran strategis, baik di pemerintahan, lembaga legislatif, maupun berbagai bidang pengabdian kepada masyarakat.
“Adik-adik hari ini adalah mahasiswa, tetapi masa depan bangsa dan daerah ada di tangan kalian. Manfaatkan kesempatan berorganisasi ini untuk membentuk karakter, belajar memimpin, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masa mendatang,” katanya.
Dalam konteks pembangunan Teluk Bintuni, Joko menghubungkan peran mahasiswa dengan semangat pembangunan SERASI: Sehat, Energik, Religius, Andal, dan Smart/Inovatif.
Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton ketika pembangunan berlangsung. Mahasiswa harus berani mengambil bagian, menghadirkan pemikiran baru, serta ikut mengawal arah pembangunan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Untuk itu, pengurus HMI yang baru dilantik didorong menyusun program kerja yang terarah, realistis, dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Keberhasilan organisasi, menurut Joko, tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari kualitas kader dan manfaat nyata yang dihasilkan.
Ia juga membuka ruang sinergi antara HMI dan pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, serta elemen masyarakat lainnya.
Baginya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang komunikasi. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan dan menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan daerah.
Menutup arahannya, Joko mengingatkan para kader agar menjadikan ilmu sebagai sumber penerangan bagi lingkungan sekitarnya, tanpa kehilangan kerendahan hati dan kemampuan menjaga diri.
“Kalau kita memiliki ilmu, tunjukkan melalui etika, perilaku, dan tindakan. Jadilah orang yang mampu menerangi banyak orang, tetapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Kita harus menjaga diri sekaligus memberikan manfaat bagi sesama,” pesannya.
Ia berharap HMI Komisariat Bintuni terus menjaga marwah organisasi, memperkuat nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, serta menjadi ruang lahirnya generasi muda yang kritis, berintegritas, dan peduli terhadap masa depan Teluk Bintuni.
Sebab, perubahan daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur dan kebijakan pemerintah. Lebih dari itu, Teluk Bintuni membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki ilmu, karakter, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kesediaan bekerja untuk kepentingan bersama.
Di situlah organisasi mahasiswa menemukan maknanya: bukan sekadar tempat berkumpul dan belajar memimpin, melainkan ruang untuk menyiapkan generasi yang kelak mampu membawa perubahan.
(MA/red/inspirasipapua.id)














